Assalamu'alaikuim warohmatullah wabarokatuh
ini saya dapet email dari sahabat saya..isinya seperti di bawah ini..
Dalam minggu ini saya menerima banyak email yang berisi permintaan maaf sehubungan masuknya bulan romadhon. Biasanya saya menanggapinya biasa saja dan menjawab permintaan maaf itu. tapi kali ini saya sangat terkejut dan heran bukan main.
Tapi yang membuat saya terkejut adalah adanya hadits yang menurut saya sangat baru ditelinga saya, dan baru pada romadhon tahun ini hadits ini sampai dihadapan saya, tahun-tahun sebelumnya belum ada. Padahal hadits2 yang berhubungan dengan romadhon begitu banyak baik yang shohih sampai yang maudhu' (palsu). Sepanjang saya sekolah di madrasah, ngaji sama ustadz, dan baca buku-buku agama, tidak pernah saya menemui hadits ini. Setelah tradisi minta maaf yang akhir2 maraklah yang membuat hadits ini sampai di email saya.
Hadits yang saya maksud adalah sebagai berikut:
“Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali.
Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,”
jawab Rasullullah.
Do’a Malaikat Jibril itu adalah:
“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;
3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Penasaran dengan hadits yang asing ini saya mencoba mencari kembali pembahasan2 atau artikel tentang pemintaan maaf menjelang romadhon di internet, ternyata tak satupun yang menyertakan hadits tersebut. Kalopun ada, sang penulisnya dipertanyakan apakah dia tahu sanat dan derajat hadits itu, mengingat dia tidak menyertakan sanat dan keterangan derajat hadits itu.
Akhirnya pencarian saya sampai ketemu pada pembahasan mengenai pembandingan hadits tersebut dengan hadits shohih yang mirip hadits itu. yaitu haditsnya sbb:
“Sesungguhnya Nabi s.a.w. telah naik ke mimbar dan berkata : Amin, Amin, Amin. Seorang bertanya kepada Baginda : Ya Rasulullah, Apa yang engkau lakukan ini? Baginda menjawab : Telah berkata Jibril kepadaku : Hambanya yang sombong, sempat bersama ibu-bapanya atau salah seorang darinya, tidak akan masuk syurga (kerana kesombongan terhadap mereka), Aku berkata : Amin, kemudian berkata malaikat: hambanya yang sombong apabila masuk Ramadhan tidak akan diampun dosanya (oleh Allah), Maka Aku berkata : Amin. Kemudian malaikat berkata : Seseorang yang sombong dimana nama engkau (Nabi s.a.w.) disebut kepadanya akan tetapi dia tidak berselawat kepada engkau, maka aku berkata : Amin.” [Hadith Riwayat al-Bukhari didalam Adabul Mufrad. Syiekh al-Albani menilai hadith ini sebagai Hasan Sahih (Sahih Adabul Mufrad LiImam Bukhari, #503/646)].
Selain itu ada juga riwayat dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhuma mengenai kisah yg sama :
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Amin, amin, amin”.
Para sahabat bertanya.”Kenapa engkau berkata amin, amin, amin, wahai Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’.
Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi itu tidak memasukkan dia ke syurga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’ “.
Kemudian Jibril berkata lagi.’Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’.” (Dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari di dalam Adab al-Mufrad dan dinilai Sahih Lighairihi oleh al-Albani di dalam Sahih Adab al-Mufrad – no: 644).
Jadi hadits jibril as tentang diabaikannya puasa orang yang tidak minta maaf menjelang romadhon itu riwayat siapa? bagaimana derajat haditsnya? Sabagai amanah ilmu yang wajib disampaikan, bila ada temen2 yang berilmu tentang hal ini mohon beritahu saya. dan jangan lupa beritahu orang2 disekitar kita.
Kemungkinan ini adalah kerjaan orang iseng, yang sering disebut hoax. tapi parahnya hoax ini malah membawa-bawa hadits. dan oleh orang yang tidak tahu dia memforword begitu saja tanpa cek derajat haditsnya. Tidak hanya dalam masalah ini, kita sering sekali mendapat email tausiyah dan nasehat yang sering mencantumkan sebuah hadits lantas sang pengirim meminta untuk diforword baik itu melalui ancaman, sindiran, maupun iming2 dsb. Dan tanpa kita tahu shohih tidak nya hadits dalam email nasehat itu, kita langsung memforwordnya. Kalo haditsnya shohih sih itu ibadah. tapi kalo haditsnya palsu ?Tersebarlah hadits2 palsu...
Kenapa saya harus menayakan masalah ini, kelihatannya masalah ini sangat sepele, tapi
akibat dan ancamannya tidak main2. Salah satu artikel di
www.alsofwah. or.id memaparkan ancaman bagi orang yang menyebarkan hadits palsu sebagai berikut:
Imam Ibn Hibban berkata di dalam kitab Shahihnya, “Pasal: Mengenai dipastikannya masuk neraka, orang yang menisbatkan sesuatu kepada al-Mushthafa, Rasulullah SAW., padahal ia tidak mengetahui keshahihannya,” setelah itu, beliau mengetengahkan hadits Abu Hurairah dengan sanadnya secara marfu’, “Barangsiapa yang berkata dengan mengatasnamakanku padahal aku tidak pernah mengatakannya, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” Kualitas sanad hadits ini Hasan dan makna asalnya terdapat di dalam kitab ash-Shahiihain dan kitab lainnya.
Selanjutnya, Ibn Hibban berkata, “Pembahasan mengenai hadits yang menunjukkan keshahihan hadits-hadits yang kami isyaratkan pada bab terdahulu,” kemudian beliau mengetengahkan hadits dari Samurah bin Jundub dengan sanadnya, dia berkata, Rasulullah SAW., bersabda, “Barangsiapa yang membicarakan suatu pembicaraan mengenaiku (membacakan satu hadits mengenaiku) di mana ia terlihat berdusta, maka ia adalah salah seorang dari para pendusta.” (Kualitas hadits ini Shahih, dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam mukaddimahnya dari hadits Samurah dan al-Mughirah bin Syu’bah secara bersama-sama) . Ibn Hibban berkata, “Ini adalah hadits yang masyhur.” Kemudian dia melanjutkan, “Pembahasan mengenai hadits kedua yang menunjukkan keshahihan pendapat kami,” lalu dia mengetengahkan hadits Abu Hurairah yang pertama di atas.
Dari apa yang telah kami sampaikan di atas, jelaslah bagi kita bahwa tidak boleh menyebarkan hadits-hadits dan meriwayatkannya tanpa terlebih dahulu melakukan Tatsabbut (cek-ricek) mengenai keshahihannya sebab orang yang melakukan hal itu, maka cukuplah itu sebagai kedustaan terhadap Rasulullah yang bersabda,
“Sesungguhnya berdusta terhadapku bukanlah berdusta terhadap salah seorang diantara kamu; barangsiapa yang berdusta terhadapku secara sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di api neraka.” (HR.Muslim dan selainnya), wallahu a’lam.
Demikian yang ingin saya sampaikan, mohon apabila ada kesalahan saya minta maaf, dan mohon dikoreksi.
wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh